Merasakan Protokoler Negara di Arab Saudi Seperti Pesantren di Kantor Gubernur Sharqiya

Merasakan Protokoler Negara di Arab Saudi Seperti Pesantren di Kantor Gubernur Sharqiya

Berkunjung ke kantor Gubernur Wilayah Timur Arab Saudi untuk menghadiri sebuah acara, tidak selonggar seperti masuk kantor gubernur manapun di Indonesia. Meski dengan protokol superketat, tetapi suasana rileks tetap terasa.

Ketika mobil masuk melewati gerbang, penjaga keamanan khusus berbaret merah memeriksa identitas setiap warga yang masuk. Kemudian Haris Watani tersebut mencocokkan identitas (iqomah) dengan data yang telah terekam di ponselnya.

Lapis kedua pengamanan, mobil diperiksa oleh sebuah dektektor yang menscan mobil dari arah samping. Setelah mobil diparkirkan, ponsel harus disimpan di dalam mobil, dilarang dibawa serta masuk ke dalam gedung pemerintahan.

Saat tiba di pintu masuk gedung, pengunjung diperiksa lagi oleh penjaga yang menggeledah seluruh bagian tubuh, setelah melewati alat detektor.

Acara masih akan dimulai 30 menit lagi, tetapi puluhan tamu dari perwakilan warga, pejabat instansi pemerintah, termasuk perwakilan 7 warga negara dunia yang bermukim di Arab Saudi. Yang menarik, ada deretan kursi untuk tamu dari kalangan ulama, bahkan juga mu’ammim Syi’ah turut hadir.

iklan google

Mereka syi’ah yang telah jelas sesat menyesatkan dari Islam, masih dilindungi dan dihormati sebagaimana warga negara yang turut diundang dalam acara kenegaraan. Bayangkan jika yang minoritas adalah Ahlu Sunnah di tengah mayoritas Syi’ah!

Acarapun dimulai saat Amir Mantiqah Sharqia hadir bersama para penasehatnya, termasuk dari kalangan ulama. Setelah beberapa sambutan dari beberapa kepala dinas daerah, barulah al-Amir as-Samuw al-Malikiy Saud bin Nayef berpidato.

Yang menarik perhatian dari acara pertemuan rutin hari Senin (al-Itsnainiyah) tersebut adalah setiap pembicara selalu memulai dengan tahmid dan shalawat, meski yang disampaikannya adalah urusan duniawi dan di acara kenegaraan bukan keagamaan.

Selain pembicara juga tak luput dengan berdoa kepada Allah setiap menutup pidatonya. Hal yang tidak akan didengarkan jika bukan dari seorang muslim.

Suasana ini tentu berbeda dengan biasa ada didengar di negeri kita, yang biasanya hanya ustadz atau da’i saja yang biasa memulai pidatonya dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad.

Protokoler acara ini juga memberikan waktu untuk menyimak tilawah Al-Quran yang dibacakan oleh seorang qari. Padahal ini bukan kegiatan keagamaan.

Acarapun diakhiri dengan nasehat dari seorang syaikh, yang tampaknya merupakan penasehat sang gubernur.

Tidak banyak basa-basi dan protokoler yang rumit, setelah syaikh selesai menyampaikan taushiyahnya, hadirin kemudian digiring ke ruang makan untuk menyantap makan malam.

Hidangan menunya khas ala Arab, ada mandi kambing, kabsah, serta tersedia hidangan pembuka dan penutup.

Acara kemudian dilanjutkan dengan perfotoan sebelum semua dipersilahkan meninggalkan tempat acara.[]