Putra Mahkota Arab Saudi: Negara-negara Arab Nantikan Fase Baru Kemitraan Dengan Cina

Putra Mahkota Arab Saudi: Negara-negara Arab Nantikan Fase Baru Kemitraan Dengan Cina

Negara-negara Arab berusaha untuk meningkatkan kerja sama dengan Cina dan menantikan fase baru kemitraan, kata Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman pada hari Jumat (9/11) di KTT China-Arab.

“Kerajaan sedang berupaya meningkatkan kerja sama [dengan Cina] untuk mendukung stabilitas internasional,” kata Putra Mahkota pada pertemuan puncak yang mempertemukan para pemimpin Arab dan Presiden China Xi Jinping yang sedang kunjungan resmi tiga hari di Arab Saudi.

Sementara itu, Xi mengatakan KTT “akan mengarah ke masa depan yang lebih cerah,” menambahkan bahwa China mencari “kerja sama komprehensif” dengan negara-negara Arab untuk melayani kepentingan bersama China-Arab.

Xi menyuarakan pentingnya menjaga stabilitas kawasan, menambahkan bahwa China mendukung upaya Arab untuk mencapai “solusi politik” untuk masalah mendesak di kawasan tersebut.

Xi juga mengatakan bahwa islamofobia dan ekstremisme harus dihadapi, dengan menambahkan bahwa terorisme tidak boleh dikaitkan dengan agama atau ras tertentu.

infohajian.org

Mengenai konflik Israel-Palestina, Xi mengatakan “ketidakadilan historis” yang dialami rakyat Palestina “tidak boleh berlanjut.” Cina mendukung pembentukan negara Palestina yang berdaulat sebagaimana perjanjian perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi juga menyoroti pentingnya hubungan Arab-Cina, dengan mengatakan bahwa koordinasi dengan Cina harus ditingkatkan untuk menyelesaikan krisis regional dan internasional.

Mengomentari tantangan saat ini, al-Sisi mengatakan keamanan air merupakan “ancaman eksistensial,” maka masalah tersebut harus menjadi prioritas dalam hal kerja sama.

Dia juga meminta Ethiopia untuk terlibat “dalam mencapai solusi akhir untuk masalah Bendungan Renaisans.”

Bendungan besar senilai $4,2 miliar telah menjadi pusat sengketa regional sejak Ethiopia memulai proyek tersebut pada tahun 2011.

Mesir dan Sudan melihatnya sebagai ancaman karena ketergantungan mereka pada perairan Nil, sementara Ethiopia menganggapnya penting untuk elektrifikasi dan pembangunannya.

Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan dia mendukung China melawan “kampanye jahat” yang dihadapinya.

Mengenai konflik Israel-Palestina, Abbas mengutuk upaya Israel untuk mengubah identitas Arab di Yerusalem dan mengatakan Israel harus bertanggung jawab atas pelanggarannya.

“Masyarakat internasional harus memboikot setiap pemerintah Israel yang tidak mengakui perdamaian,” tambahnya.[]

Sumber: alarabiya