Mengenal Fakta 4 Musim Dalam Satu Tahun di Arab Saudi

Mengenal Fakta 4 Musim Dalam Satu Tahun di Arab Saudi

Warga Arab Saudi mengenal pembagian musim di negaranya menjadi menjadi empat. Dan tiap musim terdiri dari 3 bulan, sebagaimana yang dipelajari di bangku sekolah.

Tetapi pembagian ini hanya berdasarkan teoretis, astronomis, dan geografis, yang tidak mewakili realitas dan tidak selalu konsisten, begitu menurut Prof. Abdullah Al-Misnid, Wakil Kepala Badan Iklim dan Cuaca Arab Saudi.

Hal ini dikarenakan perubahan dan fluktuasi cuaca tidak konsisten dari kapan mulai dan berakhirnya hingga durasi setiap musim tersebut. Dan pengaruh setiap tempat yang letak geografisnya memiliki perhitungannya masing-masing.

Misalnya, musim dingin dapat berlangsung di satu negara hingga lima bulan, tetapi di negara lain hanya berlangsung selama dua bulan.

Ini di satu sisi, di sisi lain pengertian orang tentang empat musim tidak selaras dengan pembagian astronomi yang diketahui saat ini.

infohajian.org

Ini juga tidak konsisten dengan konvensi geografis yang dipatenkan secara akademis, yang mengandalkan pergerakan matahari tahunan yang tampak antara daerah tropis Cancer dan Capricorn, melewati ekuator.

Menurut Al-Misnid, bahwa memasuki musim baru harus sesuai dengan pertimbangan iklim yang tidak bersifat astronomis, dan secara khusus bergantung pada elemen suhu saja.

Setiap kali kita merasa kedinginan, maka berada saat itu berada di musim dingin, yang diwakili di Arab Saudi, misalnya, jatuh pada bulan Desember, Januari, dan Februari.

Setiap kali seseorang merasa suhu sedang, maka berada di musim semi yang terasa di bulan Maret dan April, atau musim gugur pada bulan Oktober, November.

Dan setiap kali seseorang merasakan panas, maka saat itu berada di musim panas, pada bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, September.

Pembagian iklim empat musim ini lebih logis dan konsisten dengan realitas yang dirasakan orang.

Ini karena mengikuti dari pembagian yang diusulkan bahwa awal, akhir dan lamanya musim akan berbeda dari satu tempat ke tempat lain di dunia, Wallahu ‘alam.[]

Sumber: kulwit Prof. Abdullah Al-Misnid