Kemenangan Sebenarnya Dari Sekedar Membuka Wilayah Udara Saudi Untuk Penerbangan Sipil Dunia

Kemenangan Sebenarnya Dari Sekedar Membuka Wilayah Udara Saudi Untuk Penerbangan Sipil Dunia

Media dan netizen mendadak merasa peduli dan perhatian atas keputusan Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) yang mengumumkan pembukaan wilayah udaranya untuk semua maskapai dunia.

Pihak GACA menyampaikan bahwa izin tersebut bagi maskapai sipil “yang memenuhi persyaratan” dan berdasarkan Konvensi Chicago 1944, yang menyatakan bahwa tidak boleh ada diskriminasi pesawat sipil dunia.

Selain peraturan internasional tersebut, hal ini untuk melengkapi konsolidasi posisi Kerajaan Arab Saudi sebagai platform global yang menghubungkan tiga benua, sebagaimana rilis resmi dari GACA.

Yang luput dari ulasan media dan netizen adalah latar belakang dan perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Meskipun demikian, Arab Saudi tetap tidak melakukan normalisasi dengan Israel seperti negara-negara muslim dan Arab lainnya, yang cenderung tanpa komentar media atau netizen.

Kemenangan Yang Sebenarnya

Setelah mengembalikan pulau Tiran dan Sanafir, Israel meluncurkan kampanye melawan Arab Saudi dengan alasan bahwa Saudi akan menutup navigasi Israel dan menuntut kelanjutan pasukan internasional di dua pulau tersebut, yang berarti pengurangan kedaulatan Saudi.

infohajian.org

Sebagaimana diketahui, bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman berhasil mengembalikan pulau Tiran dan Sanafir sebagai bagian dari wilayah Kerajaan Arab Saudi setelah puluhan tahun di bawah kendali Internasional (baca: Amerika dan Israel).

Pulau Tiran memiliki luas 61,5 km² dan Pulau Sanafir memiliki luas 33 km² yang dihubungkan oleh sebuah batu besar di bawah laut dengan daratan Saudi.

Oleh karena itu, navigasi laut tidak dapat melewati timur pulau karena faktor medan laut dan lalu lintas terbatas di perairan barat pulau (antara Tiran dan Sharm El Sheikh Mesir).

Selama perjanjian damai Camp David 1978 antara Mesir dan Israel di bawah naungan Amerika, pulau-pulau tersebut dipilih sebagai markas besar Misi PBB untuk memantau navigasi maritim antara kedua negara.

Untuk memindahkan pasukan PBB ke lokasi lain, perjanjian harus diubah dan akhirnya ketiga pihak setuju. Persetujuan terakhir dibuat beberapa hari lalu, dari usaha Pangeran Muhammad bin Salman.

Kedua pulau tersebut memiliki nilai ekonomi dan politik yang strategis. Di antaranya merupakan bagian dari proyek NEOM yang mencakup pengembangan kedua pulau tersebut.

Restorasi kedua pulau tersebut akan memfasilitasi implementasi inisiatif untuk membangun Jembatan Raja Salman (untuk mobil dan kereta api) yang menghubungkan Mesir dengan Arab Saudi, yang melewati kedua pulau tersebut.

Sementara media dan netizen anti Saudi memasarkan “kertas tipis perizinan terbang untuk tujuan sipil,” padahal kemenangan sebenarnya adalah kembalinya kedaulatan atas pulau Tiran dan Sanafir yang berdampak atas penguasaan wilayah tersebut di bawah kendali Arab Saudi.

Yang lebih penting lagi, seluruh pasukan internasional harus ditarik dari wilayah tersebut, sebagai amandemen perjanjian damai ditandatangani pada tahun 1979, yang berarti mengusir seluruh pasukan internasional di “Area C.”

Realita Hubungan Arab Saudi dan Israel

Sebagian media dan netizen menduga ini adalah awal dimulainya normalisasi antara Arab Saudi dan Israel, karena dengan kebijakan ini, maskapai Israel termasuk yang mendapat izin melintasi kawasan udara Arab Saudi.

Benarkah? Silahkan dibaca beberapa laporan terkait:

– Pidato Raja Salman di Sidang Umum PBB tentang hubungan Arab Saudi – Israel: https://bit.ly/3AVDilJ

– Sikap tegas Kementerian Luar Negeri Arab Saudi atas hubungan Arab Saudi – Israel: https://bit.ly/3o5s1b6

– Mereka yang selalu berharap Arab Saudi membuka hubungan dengan Israel: https://bit.ly/3aEf8BF

– Lebih banyak lagi terkait hubungan Arab Saudi – Israel: https://bit.ly/3ch3vB2[]