Mekah 27 Ramadhan 1443, tidak ada yang tersisa kecuali kebaikan, kesyahduan dan keindahan padanya.
Bukan kebetulan tentunya bangsa ini (Bani Saud), dipilih oleh Allah Azza Wa Jalla hampir 1 abad lamanya sebagai pelayan Haramain.
Totalitas mereka dalam melayani jamaah benar-benar patut diancungi dua jempol, membuat siapapun yang datang merasakan kenyamanan yang luar biasa.
Karpet-karpet masjid yang selalu wangi, bersih tanpa debu. Lantai-lantai keramik yang setiap beberapa menit dipel dan disapu. AC yang sangat sejuk, lampu-lampu yang indah menjadikan siapapun akan betah berlama-lama di sini.
Tidak akan ada nampak sampah di setiap sudut Baitullah & Masjid Rasulullah hingga semua jalan-jalan di kawasan perhotelan bahkan kawasan pemukiman.
Tidak sekali dua kali jamaah bertutur: “Ustadz kenapa tidak ada kotak amal di sini? Padahal misal saja seorang jamaah ditarik sereal saja setiap hari ketika memasuki area Masjidil Haram, bisa 1-3 juta real lebih ustadz?
Sekitar 4-12 milyar rupiah lebih kan perharinya? Dan pasti jamaah juga dengan senang apalagi untuk kebutuhan pelayanan Masjidil Haram”.
Biasanya saya tanggapi hanya dengan senyuman, walau dipikir-pikir sejenak ada benarnya juga.
Tapi inilah Negeri Tauhid Saudi, bagi mereka Tamu Allah adalah segalanya, hingga berbagai upaya mereka lakukan demi memberikan pelayanan terbaik kepada para Tamu-Nya yang mulia. Bukan berharap diberi, tapi justru terus berikhtiar untuk memberi, dengan pemberian terbaik tentunya.
Tidak ada kepentingan profit oriented untuk para Tamu Allah, justru sebaliknya anggaran besar pastinya telah disiapkan demi tujuan mulia ini.
Ketinggian Tauhid mereka (Bani Saud) dan rakyatnya layak ditiru. Mereka sangat yakin akan firman-Nya dalam Surat Muhammad ayat 7, yang berbunyi:
یَأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ یَنصُرۡكُمۡ وَیُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Jika kita sebagai hamba-Nya akan mencari orang terbaik sebagai penjaga rumah kita, apalagi Allah Azza Wa Jalla Sang Pencipta Alam Semesta. Tidak mungkin memilih sembarang bangsa menjadi penjaga dan pelayan di RumahNya.
Jika Allah Azza Wa Jalla memilih mereka diantara banyaknya bangsa lain di bumi ini, adakah kita berani merendahkan bangsa ini? Kita berlindung kepada Allah dari sikap ini tentunya.
Inilah rumah Allah, dan Allah sendirilah yang akan menjaganya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهِمْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya Allah melindungi Mekah dari serangan gajah dan Dia jadikan Rasul-Nya dan orang mukmin menguasainya.” (HR. Bukhari no. 112)
Tanah inilah sejatinya tempat kembalinya kita, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
“Sesungguhnya Dzat yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashas: 85).
MasyaAllah, pada akhirnya energi kesalehan itu akan bertemu pada sebuah titik mulia di dunia yaitu (Mekah & Madinah), yang menghilangkan sekat-sekat dunia sekaligus menanggalkan semua tittle jabatan sebelumnya.
Semoga Allah mudahkan langkah kita menuju tempat mulia ini. Aamiin.
———— .
Fauzy (Keluarga Al Anshari Madinah), di bawah langit Kota Mekah Al Mukarromah.
Dinukil dari tulisan Muhammad Fauzy Ilham