Tak Ada Sumber Berita, Akun Media Sosial Jadi Rujukan Utama Untuk Menyudutkan Arab Saudi

Tak Ada Sumber Berita, Akun Media Sosial Jadi Rujukan Utama Untuk Menyudutkan Arab Saudi

Ada-ada saja berita tentang Arab Saudi. Sesuai dengan pribahasa “Tak ada rotan, akar pun jadi,” apa saja bisa dijadikan bahan berita untuk mencitrakan buruk Kerajaan Arab Saudi. Yang lebih menyedihkan, pembaca berita mudah saja percaya asal ditulis oleh media besar.

Dari sekian banyak berita palsu tentang Saudi, semuanya tidak bisa dibuktikan kebenarannya dari sumber terpercaya, kecuali nukilan dari media atau akun di media sosial yang sudah dikenal memusuhi Arab Saudi, baik secara politik, kecemburuan ekonomi maupun pandangan agama.

Yang viral diberitakan akhir-akhir ini adalah seorang qari’ terkenal dihukum penjara hanya karena menjadi imam sebuah masjid di Turki yang ditengarai kala itu bersitegang secara politik dengan Arab Saudi.

Padahal hubungan diplomatik Arab Saudi dengan Turki selama ini tidak ada masalah; kedubes di kedua negara masing-masing tetap buka dan melayani, kedua kepala negara juga saling berkunjung. Hanya saja sempat bersitegang ramai di dunia maya karena aksi sekelompok orang yang tidak mewakili negara.

Jadi jika ingin menyimpulkan hubungan diplomatik satu negara dengan negara lain, semestinya diukur dengan bukti data dan ilmiah, bukan rumor atau yang sekedar viral di media sosial.

infohajian.org

Dari sekian laporan berita yang beredar, tidak ada satupun yang bisa divalidasi kebenarannya. Pasalnya, semuanya tidak memenuhi unsur sebuah berita yang kredibel; 4W1H (Who, What, When, Where, Why, How).

Seiring dengan mudahnya orang menyebar berita di internet, media bermodal besar yang konon profesional pun sudah tidak pernah lagi melakukan verifikasi dan klarifikasi atas laporan yang ditulis hasil dari copy-paste dan terjemahan.

Karena itulah, tidak heran jika ada media menampuk akun antah barantah `Prisoners of Conscience‘ yang menjadi sumber primer sebuah laporan berita “seorang imam dihukum 12 tahun penjara” sebagai “organisasi hak-hak Saudi.”

Padahal akun tersebut hanya mengaku sebagai “We cover the latest news about Prisoners of Conscience in Saudi Arabia.”

Dan semua cuitan yang ditulis di akun tersebut hanya berdasarkan sebuah kalimat “Confirmed to us…” Ketika dikomentari netizen “who has confirmed to you?” Semuanya bungkam, membisu, karena memang sama sekali tidak memenuhi unsur sebuah fakta berita yang disepakati pakemnya.

Tetapi Anda bisa jadi terlewatkan untuk berpikir lebih jeli; tahun berapa akun tersebut dibuat dan menyerang pemerintah mana saja yang didiskreditkan? Meski mengaku “….about… Saudi,” Tapi tampaknya kekurangan materi, maka cuitannya menyerang negara-negara lain tertentu.

Tipikal kelompok oposisi seperti ini seragam di banyak negara dunia. Bahkan demi meneriakkan kepentingan kelompoknya, menyebar fitnah dan memutarbalikkan fakta sudah menjadi hal yang lumrah.

Sebagai contoh, tokoh teroris yang sudah dikenal aral melintang dengan aksi terornya dianggap sebagai pahlawan, ulama atau tokoh yang patut diberi kebebasan. Sementara berita resmi dari sebuah negara dianggap sebagai alat pembungkam.

Ketika ada ulama yang menyerukan yang haq, dituding sebagai ekstremis (wahabi). Tetapi saat ada tokoh panutannya menfatwakan bolehnya bunuh diri, misalnya, dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Contoh tahrif, tazwir, dan tabdil seperti ini banyak beredar di media mereka dan diamini oleh media sekuler.

Inilah dunia saat ini, tidak cukup memberi nasehat di atas mimbar masjid, tetapi ladang jihad di media telah menjadi keniscayaan. Bukan sekedar membela sebuah negara, tetapi menegakkan yang haq, memberantas kebatilan.[]