“Peningkatan pendapatan minyak dan kegiatan minyak akan membantu Arab Saudi mencapai tujuan keberlanjutannya,” papar Faisal al-Ibrahim, Menteri Ekonomi dan Perencanaan Arab Saudi dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada hari Rabu (25/5).
Klaim tersebut disampaikannya ketika harga minyak global tinggi di tengah permintaan yang lebih tinggi disebabkan invasi Rusia ke Ukraina.
Terlepas dari kenaikan penggunaan dan produksi minyak, Inisiatif Hijau Arab Saudi, Inisiatif Hijau Timur Tengah, dan Visi 2030 bertujuan untuk menghasilkan 50 persen energi terbarukan “semuanya berjalan sesuai rencana,” tambah Faisal.
Ekonomi Saudi diproyeksikan tumbuh 7,4 persen tahun ini. “Tahun lalu kegiatan nonmigas kita tumbuh 6,1 persen, dan kita ingin tren itu terus berlanjut,” harapnya.
“Hal terakhir yang kami inginkan adalah berfokus pada perubahan iklim tanpa berfokus pada keamanan energi dan pengembangan energi,” katanya, menyerukan untuk melanjutkan investasi dalam bahan bakar fosil untuk mendukung transisi ke energi bersih oleh Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman.
Harga minyak belum menguntungkan negara-negara penghasil minyak dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak awal pandemi.
Sementara dunia menghadapi COVID-19, Arab Saudi menghadapi tantangan ganda, kata Menteri Keuangan Mohammed al-Jadaan, seraya menambahkan bahwa Saudi harus berjuang melawan COVID-19 dan jatuhnya harga minyak.
“Kami harus mengambil keputusan yang sulit, tetapi kami mengomunikasikannya dengan sektor publik dan swasta, dan hasil akhirnya adalah kami memiliki lebih banyak kepercayaan dari publik dengan sektor-sektor, dan kami memberikan dukungan yang tepat,” katanya di panel WEF di Davos.
“Kebijakan kami jelas. Permintaan energi dari minyak akan terus meningkat menurut konsensus para ahli. Kami akan terus meningkatkan kapasitas, dan kami akan terus mendukung peningkatan kapasitas,” kata Menteri Ekonomi dan Perencanaan Saudi.
Dia juga mendesak agar peningkatan investasi dalam minyak tidak akan “bertentangan” dengan dukungan kuat Kerajaan untuk mengurangi emisi karbon dan mengatasi perubahan iklim.
“Hal terakhir yang ingin kami lihat jika kembali membakar jenis batu bara paling kotor pada saat dibutuhkan,” kata al-Ibrahim.
Menteri Energi mengatakan pada awal Mei bahwa bahkan sebelum krisis Ukraina, “skenario the la la land tentang net-zero telah dipukul dengan begitu banyak kenyataan,” termasuk biaya, sebagaimana pidato publiknya pada Aviation Summit di Riyadh.
Baru-baru ini, Amin Nasser, kepala Saudi Aramco mengatakan kepada Reuters bahwa dunia sedang menghadapi “kegentingan pasokan minyak besar karena sebagian besar perusahaan takut untuk berinvestasi di sektor ini, mereka menghadapi tekanan energi hijau,” sambil menambahkan bahwa mereka tidak dapat memperluas kapasitas produksi lebih cepat dari yang dijanjikan.
Arab Saudi saat ini memproduksi 10,5 juta barel per hari, atau setiap sepersepuluh barel di dunia, dan kemungkinan akan meningkatkan produksi menjadi 11 juta barel per hari akhir tahun ini ketika pakta yang lebih luas antara OPEC dan sekutu seperti Rusia berakhir, kutip AlArabiya.[]
Sumber: alarabiya