Kemarin kami menjenguk seorang WNI yang dilaporkan keluarganya tidak pernah pulang ke Indonesia hampir 15 tahun.
Kali ini pertemuan dengan majikan dan WNI kita bukan di kantor polisi atau di pengadilan, tapi di rumah majikan.
Obrolan kami ringan dan akrab. Tradisi Arab memuliakan tamu memang terasa. Kamipun tidak bisa menolak ketika tuan rumah menjamu makan siang.
Nasi kabsah dengan panggang ayam kami santap dalam satu hidangan bersama tuan rumah.
Secara fisik, WNI kita terlihat bahagia dan sehat. Sesekali di sela percakapan, dia memeluk majikan perempuan, yang dia panggil Ummu dengan manja, laksana pelukan anak kepada ibunya.
Sama hangatnya, wanita Arab berusia 50an tahun itu juga membalas pelukannya.
Setelah basa basi yang agak panjang, saya sampaikan pesan keluarga di Indonesia yang ingin WNI kita pulang.
“Keluarga rindu, dan sudah waktunya dia pulang – ‘dari gadis hingga gadis lagi,'” kata paman yang menghubungi kami.
Seperti dugaan kami, WNI menolak, dia betah dan menurutnya, tidak ada gunanya pulang.
Rupanya ada laporan dari keluarga sebelumnya, kedua orang tuanya telah meninggal.
BACA: Magnet yang Menarik Warga Indonesia Bekerja di Arab Saudi
Sebenarnya, kami tahu dari keluarga bahwa informasi orang tuanya meninggal hanya bohong, yang sengaja disampaikan keluaga karena ingin memancing WNI kita pulang. Entah dari mana ngarang seperti itu muncul.
Fatal, usaha membujuk dengan bohong begini, malah jadi alasan WNI kita tidak mau pulang.
Sekarang, kami berusaha membujuk kembali. Keluarga meminta KJRI mengembalikan WNI kita bagaimanapun caranya. Bahkan lewat salah satu media lokal online di Tanah Air, isu ini juga ramai.
Sulit memang, tinggal bersama keluarga majikan selama 15 tahun, nyaris membuat WNI kita kehilangan memori tentang kampung halaman, orang tua, semuanya, dan bahkan bahasa Indonesia yang terbata-bata.
Bagaimana bisa WNI kita tiba-tiba percaya kepada “orang asing” seperti kami, yang baru pertama kali ketemu. Karenanya perlu cara, pelan dan persuasi yang tidak bisa asal paksa.
Langkah kami untuk dapat bertemu dan diterima di rumah majikan adalah salah satu cara itu.
Siapalah KJRI, dalam hukum Saudi, privasi keluarga menjadi prioritas. Seorang polisipun tidak bisa masuk ke rumah warganya tanpa alasan yang kuat. Apapun di dalam rumah itu menjadi properti mereka.
Adalah salah besar jika ada keluarga di Indonesia beranggapan bahwa KJRI bisa seenaknya merebut dan memaksa anaknya yang sedang bekerja di dalam rumah majikan keluar dan pulang ke Indonesia.
Ditambah lagi, WNI kita sendiri tidak mau pulang. KJRI tidak bisa memaksa.WNI perlu dibujuk agar terbuka pikirannya untuk pulang ke keluarga.
Dalam kasus ini, majikan sudah bersedia memulangkan WNI kapanpun, jika WNI kita mau.
Mungkin nanti, seiring waktu, dan komunikasi kami yang sering dengan WNI, atau mungkin doa orang tua di kampung bisa ampuh, suatu saat WNI kembali.
Oh ya, sebelum datang ke rumah majikan ini, kami sempat singgah di kantor polisi setingkat kecamatan.
Lokasi rumah majikan terletak di pedalaman 3 jam dari Jeddah. Ini sebagai Protap kami, datang ke wilayah orang, sempatkan “kulonuwun” dengan pihak berwenang.
Mengetahui kami akan berkunjung ke rumah warganya, suku asli Badui, perwira Polisi yang kami temui menawarkan jasa pendamping. Mereka menawarkan pengawalan.
Perwira itu menduga, dengan urusan yang menurut dia bakalan heboh (maklum, kami laporkan kasusnya), mereka merasa perlu menjaga keamanan kami.
Saya menolak tawaran itu, lebih karena saya khawatir akan membuat tuan rumah merasa rikuh, dan ‘defensive‘. Polisi meyakinkan ini di kampung beda dengan di kota.
Saya membatin, saya juga anak kampung. Saya tidak mau kehadiran polisi malah menyulitkan membangun ‘trust‘ dengan tuan rumah, karena seolah kami tidak percaya dengan mereka.
Seraya berterima kasih, sayapun tandatangan pernyataan bahwa tidak mau dikawal, belum waktunya.
Alhamdlillah, mungkin kalau dikawal, jamuan buah delima khas Taif dan legit nasi kabsahnya tidak jadi didapat .
Tujuan kami kunjungan ke majikan, sederhana, masuk dan diterima oleh keluarga majikan, ketahui bagaimana kondisi WNI kita, bujuk dia pulang.
Kalau belum berhasil, in sya Allah ada kesempatan berikutnya.
Pengalaman 15 tahun tidak mudah diubah hanya dengan pertemuan singkat kami ini. In sya Allah, masih ada hari esok….