Umrah Ramadan oleh: Haji Tanpa Antri Bilboard Dekstop
promo: Haji Tanpa Antri Bilboard Dekstop

Kerajaan Arab Saudi Penjarakan Ulama?

Tujuh tahun yang lalu, Putra Mahkota Muhammad bin Salman mengunjungi rumah Syaikh Salih Al-Fawzan, semoga Allah menjaga keduanya.

Kemudian Warga Saudi mendapati beberapa media dan sebagian warganet berbicara tentang penguasanya: Kerajaan memenjarakan ulama?!

Dan alhamdulillah, Raja Salman beserta Putra Mahkotanya tahu nilai ulama yang dapat dipercaya dan kedudukan ilmiahnya seperti Syaikh Al-Fawzan, Syaikh Al-Luhaidan, atau Syaikh Al-Rabee bin Hadi.

Kuota Haji Dalam Negeri
Promo

Sementara ada beberapa da’i berbicara di atas mimbar masjid, majlis ilmu syar’i atau forum-forum lain yang tidak pada tempatnya: Menyampaikan “nasehat,” membicangkan kebijakan penguasa, atau bahkan mengkritik hingga memprovokasi khalayak umum sehingga citra pemimpinnya buruk.

Mereka inilah yang oleh penguasa di Arab Saudi diceah dan ditangkap. Kebijakan seperti ini tentu tidak populer di negara-negara demokrasi yang konon memberikan kebebasan bersuara, berekspresi, dan seterusnya. Tetapi faktanya, berapa banyak pemuja demokrasi justru dibungkam dan didzalimi.

Bagi Kerajaan Arab Saudi yang menjadikan syari’at Islam sebagai undang-undang dasarnya, tidak mengizinkan da’i berperan ganda sebagai politikus seperti membicarakan penguasa di depan umum. Ada majlis khusus, ada cara, waktu dan tempatnya sendiri untuk memberi koreksi kepada penguasa.

Untuk itulah, para Kibar Ulama, mereka alim sepuh di Arab Saudi, tidak akan pernah kita dengar seperti apa yang sering disampaikan sebagian da’i muda yang kurang ilmu, berbicara memicu kegaduhan, hingga memprovokasi warga yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan negara.

Bukan, bukan karena penguasanya dzalim atau tidak sudi dikoreksi. Tapi silahkan tanyakan fitrah Anda sebagai manusia; sudikah Anda “dikoreksi” di muka umum? Terutama lagi dengan bahasa yang merendahkan, melecehkan hingga menebar fitnah?

Adab dalam memberikan nasihat kepada sang pemimpin ini diperjelas dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاِنِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah dia menasihati secara terang-terangan. Akan tetapi, ambillah tangannya dan menyepilah dengannya. Jika sang penguasa menerima (nasihatmu), itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad 3: 403, Ath-Thabrani dalam Musnad Asy-Syamiyyiin 2: 94, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096 dan yang lainnya. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Dzilaal As-Sunnah 2: 507)muslim.or.id

Promo