Umrah Plus September oleh: Umrah Plus September
promo: Umrah Plus September

Meskipun Panas Musim Panas: Apa Rahasia Dingin di Lantai Masjidil Haram?

Meskipun Panas Musim Panas: Apa Rahasia Dingin di Lantai Masjidil Haram?

Barangkali, tidak ada satupun dari para peziarah Masjidil Haram, baik jamaah haji maupun umrah, yang tidak bertanya-tanya tentang rahasia dinginnya lantai Masjidil Haram, meskipun suhu pada musim panas bisa mencapai 50 derajat Celsius.

Sebagian orang mungkin mengira ada sistem pendingin di bawah lantai, namun anggapan ini tidak benar.

Dingin tersebut sebenarnya kembali ke masa ketika Raja Khalid memerintahkan penyelesaian pembangunan dan perluasan Masjidil Haram pada tahun 1396 H.

Bilboard News Detail
Promo

Pada masa pemerintahannya pada tahun 1398 H, area thawaf diperluas dengan bentuknya seperti yang sekarang, dan lantainya dilapisi dengan marmer Thassos, yang semakin menambah kenyamanan bagi jamaah salat dan thawaf di siang hari.

Marmer Thassos dari Yunani

Menurut keterangan dari Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sifat dingin lantai Masjidil Haram berasal dari jenis marmer yang digunakan.

Marmer ini diimpor dari Pulau Thassos di Yunani dan dikenal dengan nama marmer Thassos. Marmer ini memiliki kemampuan memantulkan cahaya dan panas. Ketebalan marmer yang digunakan di dua masjid suci tersebut mencapai 5 sentimeter.

Yang membedakan marmer ini adalah kemampuannya menyerap kelembapan melalui pori-pori halus selama malam hari, dan kemudian melepaskan kelembapan tersebut di siang hari. Inilah yang membuatnya tetap dingin meskipun suhu udara sangat tinggi.

Disebutkan bahwa Arab Saudi telah mengimpor marmer Thassos dari Yunani selama beberapa dekade, khusus untuk Masjidil Haram karena kemampuannya memantulkan cahaya dan panas —yang tidak dapat dilakukan oleh jenis granit atau marmer lainnya. Marmer Thassos tergolong langka dan diambil dari salah satu pegunungan di Yunani.

Ciri Khas Marmer Masjidil Haram

Marmer Masjidil Haram berasal dari Pulau Thassos yang terletak di utara Yunani, yang luasnya tidak lebih dari 380 kilometer persegi. Bangsa Yunani dikenal sebagai salah satu peradaban awal yang menemukan dan mengembangkan penggunaan marmer sepanjang sejarah.

Marmer ini terkenal karena warnanya yang putih kristal, tergolong batu alam yang paling murni dan kuat. Ia juga memiliki kemampuan menyerap kelembapan melalui pori-pori kecil saat malam dan mengeluarkannya kembali saat siang, menjadikannya selalu sejuk bahkan di tengah suhu tinggi —membuatnya menjadi “dingin dan membawa kedamaian” bagi para jamaah yang thawaf di sekitar Ka’bah.

Arab Saudi mengimpor marmer ini dalam bentuk batu besar, kemudian diproses di pabrik-pabrik khusus di Arab Saudi di bawah pengawasan teknisi yang ahli, untuk dipotong menjadi ubin dengan ukuran dan standar tertentu. [Muhammad Abyan Arrazi]

Sumber: AlArabiya

Umrah Bersama Kami
Promo