Umrah Plus September oleh: Umrah Plus September
promo: Umrah Plus September

Penghargaan Pendidikan Terburuk dalam Sejarah

Penghargaan Pendidikan Terburuk dalam Sejarah

Oleh: Ahmad Sa’id Al Hurairi, Mantan Mudir Ri’ayah Al Mauhubin

Keluarga itu terperanjat ketika si kecil pulang ke rumah setelah satu bulan memasuki tahun ajaran baru, sambil tersenyum bangga memegang sebuah hadiah berbungkus indah. Anggota keluarga pun ikut bergembira, lalu sang ayah bertanya penuh rasa ingin tahu:

– “Apa yang sudah kamu capai, Nak, sampai pantas mendapat hadiah yang berharga ini?”

Anak itu menjawab polos:

Bilboard News Detail
Promo

– “Aku meraih peringkat pertama dalam lomba ‘Siswa Tersenyap’ sepanjang bulan ini!”

Bak petir di siang bolong, kabar itu menghunjam hati sang ayah. Ia segera menyadari betapa mengerikannya tujuan di balik “penghargaan” semacam ini. Tanpa menunda, ia melangkah ke sekolah untuk menemui kepala sekolah dan mencari tahu siapa guru yang mendidik anaknya.

Betapa terkejutnya ia mendengar kepala sekolah memuji sang guru sebagai teladan yang mampu “mengendalikan” kelas awal dengan baik. Guru itu bahkan merogoh kocek pribadinya untuk membelikan hadiah bagi siswa-siswa yang menurut penilaiannya patuh.

Lebih mengherankan lagi, kepala sekolah sangat menjaga “reputasi” sekolah di mata para pengawas dan tamu. Ia memutuskan menempatkan siswa kelas satu dan dua di lantai tiga.

Terlepas dari betapa beratnya anak-anak kecil itu harus naik turun tangga setiap pagi, saat istirahat makan, pelajaran olahraga, hingga pulang sekolah. Dia melakukan ini semua supaya suara riang mereka tidak terdengar, demi menjaga citra “ketertiban” sekolah di mata para tamu!

Sewaktu kepala sekolah mengajak sang ayah berkeliling, ia menyaksikan betapa sunyinya lorong-lorong sekolah—hanya bisikan yang terdengar. Ketika mereka mencapai lantai tiga dan bel pelajaran berbunyi, para siswa keluar untuk menghirup udara segar setelah 45 menit terpaksa untuk diam.

Namun begitu kepala sekolah muncul, rasa takut memaksa mereka kembali berebut masuk ke kelas seperti kawanan rusa yang melihat singa. Lalu terdengarlah suara geram sang kepala sekolah:

– “Cepat masuk kelas, Nak!”

Apakah wajar membangun pendidikan dengan menekan naluri anak, membungkam pertanyaan, dan menanamkan rasa takut?

Allah Yang Maha Kuasa sendiri telah memperingatkan Nabi Muhammad ﷺ -suri teladan para pendidik- agar tidak menghardik orang yang bertanya. فَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (“Adapun orang yang meminta (bertanya), janganlah engkau membentaknya.”) Bahkan, Allah menegur Nabi ketika beliau bermuka masam kepada seorang buta. عَبَسَ وَتَوَلَّى * أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (“Ia bermuka masam dan berpaling, ketika datang kepadanya seorang buta.”)

Umrah Bersama Kami
Promo

Para sahabat Rasul ﷺ pun dikenal karena semangat mereka dalam bertanya. Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, “Bagaimana engkau mencapai ilmu?” Ia menjawab, “Aku meraih ilmu dengan lisan yang gemar bertanya, hati yang selalu berpikir, dan tubuh yang tak cepat bosan.”

Bagaimana mungkin akal dapat hidup apabila ia terhalang dari bertanya?

Karena itu, mari menjadikan ruang-ruang belajar kita seperti sarang lebah yang penuh kehidupan. Tempat yang mendorong siswa bertanya, mengasah berpikir kritis, kreatif, dan analitis. Biarkan lahir di sana pertanyaan-pertanyaan: “Mengapa?”, “Bagaimana?”, “Bagaimana kalau…?”, dengan dibingkai tata krama yang baik.

Peran guru seharusnya membuka cakrawala, mencipta suasana positif yang mendorong siswa mencari jawaban dan terlibat aktif, serta menemukan bakat melalui pertanyaan-pertanyaan yang tak biasa.

Ini juga ajakan bagi para ibu -sebagai pendidik di rumah- untuk menjadi mitra sejati sekolah dalam perjalanan belajar. Layaknya seorang ibu yang setiap kali anaknya pulang, selalu bertanya: “Apa yang kamu tanyakan hari ini?” Pertanyaan sederhana itu membentuknya menjadi pelajar yang ingin tahu. Sang ibu tak hanya menuntut pertanyaan, tapi mendorong agar pertanyaannya mencapai tingkat tinggi imajinasi dan pemikiran. Kelak, anak ini meraih penghargaan Nobel di bidang fisika.

Pendidikan sejati tidak mencetak “siswa pendiam”, melainkan melahirkan pikiran yang ingin tahu, hati yang merenung, dan generasi kreatif. Mari alihkan penghargaan dari “terbaik dalam diam” menjadi “pertanyaan terbaik” — sebab sebuah pertanyaan dapat membuka jalan menuju ide brilian dan menyingkapkan pemikir berbakat. [Muhammad Wildan Zidan]

Sumber: Makkahnews