Mengapa OPEC Yang Dipimpin Arab Saudi Turunkan Produksi Minyak?

Mengapa OPEC Yang Dipimpin Arab Saudi Turunkan Produksi Minyak?

Pengurangan produksi minyak tidak bertujuan menaikkan harga, bukan untuk mencari profit lebih. Keputusan ini merupakan hasil dari beberapa faktor langsung dan tidak langsung.

Berikut analisa Khaled Asy-Syarif, yang membahasnya dari prespektif seorang spesialisasi ekonomi dan keuangan.

Di antara faktor yang melatarbelakangi diturunkannya produksi minyak OPEC+ adalah menurunnya aktivitas produksi di pabrik di Eropa pada September 2022.

Termasuk produksi industri Inggris turun untuk bulan ketiga berturut-turut, menunjukkan kejatuhan ekonomi.

Dari Jepang juga mencatat pertumbuhan terlemah sejak Januari tahun lalu, termasuk aktivitas industri menyusut di Taiwan dan Malaysia.

infohajian.org

Penurunan produksi manufaktur di Eropa bulan lalu sebagai akibat dari meningkatnya krisis biaya hidup, masyarakat enggan untuk membeli kecuali untuk kebutuhan pokok.

Hal ini terjadi setelah beban keuangan yang besar karena nilai tagihan energi yang tinggi, yang mengarah pada pengurangan produksi manufaktur yang tidak penting.

Di antara buktinya, sektor manufaktur Inggris mengalami kontraksi bulan ketiga berturut-turut sampai bulan September, karena perusahaan memangkas produksi akibat menurunnya demand untuk bulan keempat berturut-turut.

Indeks S&P Global/CBS Inggris mencetak 48,4 poin pada bulan September, meskipun ini merupakan peningkatan dari 47,3 pada bulan sebelumnya.

IMP Manufaktur Gibbon Jepang turun menjadi 50,8 pada bulan September, mencatat tingkat pertumbuhan terlemah sejak Januari tahun lalu karena fakta bahwa pesanan baru menyusut pada tingkat tercepat dalam dua tahun.

Sementara itu produksi mencatat penurunan terbesar dalam satu tahun terakhir karena lemahnya permintaan dari China dan mitra dagang lainnya.

Krisis ini akan berdampak secara signifikan pada operasional manufaktur di pasar Jepang dan meningkatkan penderitaan ekonomi Jepang, yang menghadapi tantangan sulit untuk keluar dari dampak pasca pandemi korona.

Pertumbuhan produksi manufaktur di Taiwan dan Malaysia mengalami kontraksi pada September dibandingkan Agustus, sebagai akibat dari biaya bahan baku yang lebih tinggi dan ekspektasi negatif global terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, memburuknya kondisi ekonomi di China, Amerika Serikat dan Eropa telah berdampak pada aktivitas manufaktur di negara-negara Asia.

Oleh karena itu, tidak logis bagi negara-negara anggota OPEC dan OPEC+ untuk melanjutkan produksi pada kecepatan yang sama, yang dapat mengakibatkan kerugian jika hanya untuk memuaskan masyarakat Barat.

Lebih dari itu, berpotensi menciptakan masalah krisis energi karena kecerobohan agenda iklim dan politisasi transisi hijau menuju energi “alternatif” terlepas jauh dari kenyataan.[]

*) Khalid Asy-Syarif, pakar ekonomi dan keuangan bergelar PhD & DPhil.