Umrah Ramadan oleh: Tour Saudi Bilboard Dekstop
promo: Tour Saudi Bilboard Dekstop

Jangan Tiru Cara-Cara Orang Arab

Jangan Tiru Cara-Cara Orang Arab

Judul ini dinaikkan di status FB Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri, Dosen STDI Imam Syafi’i Jember, Pembina KPMI, dan pendakwah. Seakan sedang merespon beberapa tokoh Nasional yang selalu membenturkan Nusantara dan Arab.

Ustadz Arifin yang dikenal sebagai pakar ekonomi Islam lulusan Universitas Islam Madinah, juga netizen yang aktif menulis Face Book (FB) dengan gaya sarkasme sekaligus mempromosikan sekolah tinggi tempatnya mengajar.

Copywriting nya oke pak ustadz,” puji salah seorang warganet mengomentari status FB Ustadz Arifin. Lainnya mengomentari “jangan sampe sholat dibilang jadi budaya Arab dan nyebut nama “Allah” Adalah budaya Arab,” untuk postingan kali ini.

Umrah Anti Mainstream
Promo

Beberapa kalangan selalu mengkambinghitamkan Arab sebagai biang keladi polemik di Tanah Air, hingga muncul istilah “kadrun” yang populer beberapa tahun belakangan.

Arab diidentikkan dengan jumud, anti kemajuan, intoleransi, dan segudang tudingan miring tak berdasar. Sejatinya yang sedang diserang bukanlah Arab sebagai entitas an sich, tetapi agama Islam.

Karena sebagian muslim yang selalu menolak Arab tersebut, tidak akan menyerang agamanya sendiri secara frontal, tetapi bersembunyi dibalik kata “Arab” agar tidak tidak tampak hipokritnya.

Tudingan kearab-araban biasanya dialamatkan bagi pemahaman agama yang berbeda dengan yang telah mengakar di masyarakat Islam Indonesia atau bertentangan dengan kearifan lokal Nusantara.

Padahal apa yang dianggap kerab-araban tersebut sebenarnya ajaran Islam. Misalnya seperti niqab bagi wanita atau dakwah yang selalu menyeru untuk menjauhi amal perbuatan yang mendekati kesyirikan.

Masyarakat awam seringkali dobodohi oleh segelintir orang yang menggiring bahwa Islam yang berkembang di Arab, terutama Arab Saudi; tidak toleran, tidak menghargai pendapat yang berbeda, apalagi jika digiring dengan jargon “wahabi.”

Isu “Wahabi” sendiri sudah lama beredar luas, sejak berdirinya Arab Saudi. Uniknya, masih saja ada yang menunjuk paham tersebut bertumbuh kembang di Kerajaan Arab Saudi, tetapi tidak mampu membuktikannya sama sekali.

SILAHKAN DIBACA: WAHABI DI ARAB SAUDI

Tudingan-tudingan miring seperti intoleransi di dunia Arab sama sekali tidak pernah terbukti. Di dunia Arab tumbuh berkembang ajaran selain Islam dan hidup berdampingan.

Umrah Anti Mainstream
Promo

Di Arab Saudi, 40% populasinya adalah warga asing non-Saudi yang bekerja dan menetap bersama warga pribumi. Tidak semua ekspatriat tersebut sebagai muslim, di antaranya penganut Nasrani, Hindu, bahkan warga Syi’ah pun dilindungi dan dipenuhi hak-haknya.

Menuding Arab sebagai “kadrun,” diindetikkan sebagai negara dan bangsa yang terbelakang, tidak lebih prilaku “buruk muka cermin dibelah,” yang menyalahkan keadaannya yang buruk kepada orang lain, padahal kesalahannya sendirilah yang menyebabkan keadaannya.

Apa yang ingin dibandingkan antara negeri Arab dengan kondisi penuduh tersebut? Penerapan teknologi digital? clean government? Pelayanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan untuk rakyatnya? Industri militernya? Memprioritas warga pribumi dari pada warga asing? Kekayaan negaranya? Peran kemanusiaan untuk Islam dan masyarakat dunia?

Jelas sebagian orang yang berteriak “kadrun” tidak melek fakta, negeri-negeri Arab jauh lebih maju dan kontribusi untuk dunia Islam dan kemanusiaan telah terbukti.

Akhirnya, mari kita baca penggalan status Ustadz Arifin:

Jangan tiru cara cara orang arab.

Penceramah diatur, namun digaji.

Imam, muazzin masjid diatur atur, namun digaji.

Volume pengeras suara diatur namun pengurus masjidnya digaji.

Sekolah islam diatur, namun semua guru, karyawan bahkan siswanya dibayari.

Jangan ditiru yang kayak gitu, karena itu budaya arab, wis ojo kearab araban lah….

Kita tuh punya kearifan lokal. (Status FB Dr Muhammad Arifin Badri, 28/2)