Umrah Plus September oleh: Umrah Plus September
promo: Umrah Plus September

Inovasi Saudi untuk Melindungi Pesawat dari Gangguan Sinyal 5G

Inovasi Saudi untuk Melindungi Pesawat dari Gangguan Sinyal 5G

Sekelompok ilmuwan dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) merancang pendekatan matematika inovatif untuk melindungi pesawat dari gangguan sinyal komunikasi seluler. Mereka memublikasikan temuan ini di jurnal IEEE Transactions on Wireless Communications. Sebuah konsep “zona isolasi ideal” yang menjaga sistem vital pesawat sekaligus meningkatkan performa jaringan 5G.

Penelitian tersebut diharapkan membantu regulator penerbangan dan telekomunikasi dalam menata penempatan jaringan di koridor udara.

Para peneliti untuk pertama kalinya menerapkan geometri stokastik. Ia merupakan metode matematika untuk memodelkan elemen acak dalam jaringan guna memprediksi bagaimana sinyal 5G berinteraksi dengan altimeter radio pesawat.

Bilboard News Detail
Promo

Data mengalir melalui gelombang elektromagnetik dalam rentang frekuensi. Semakin lebar rentang itu, semakin cepat pertukaran data. 5G beroperasi pada rentang paling luas dan menyediakan kecepatan tinggi, tetapi berisiko menimpa sistem lain.

Pemimpin studi, Profesor Muhammad Al ‘Ulwaini, menegaskan bahwa frekuensi 5G berdekatan dengan altimeter radio pesawat sehingga dapat menyebabkan gangguan. Ia pun menegaskan perlunya zona isolasi untuk mengurangi interferensi. Timnya menyarankan agar menara 5G di sekitar bandara menggunakan frekuensi rendah dari spektrum lama, bukan frekuensi tinggi terbaru.

Dengan geometri stokastik, para ilmuwan menganalisis berbagai bentuk zona isolasi dan menemukan bahwa bentuk segitiga di sekitar landasan paling efektif. Bentuk ini menjaga sinyal altimeter dan meminimalkan penurunan performa 5G. Simulasi mereka menunjukkan performa jaringan turun 20 % jika ada satu menara di zona tersebut, dan merosot hingga 50 % jika ada tiga menara.

Communications, Space and Technology Commission (CST) mendukung penelitian ini, dan para periset berharap temuannya menjadi panduan global agar 5G dan altimeter radio bisa hidup berdampingan. [Muhammad Wildan Zidan]

Sumber: Alarabiya