Imam Makkah Dipenjara 10 Tahun: Apa Benar?

Imam Makkah Dipenjara 10 Tahun: Apa Benar?

Laporan yang meragukan tentang penangkapan dan 10 tahun penjara Imam Makkah Syaikh Saleh Al-Talib oleh otoritas Saudi sedang tren di media sosial. Laporan ini didasarkan pada sumber anonim, dengan propaganda Ikhwanul Muslimin yang jelas memusuhi Arab Saudi.

Laporan tersebut berasal dari jaringan berita Ikhwanul Muslimin yang terkenal yaitu Middle East Eye, Middle East Monitor (MEMO), jaringan media sosial pro-Qaeda Documenting Oppression Against Muslims (DOAM), dan sekutunya Iran seperti Kayhan dan Iqna.

Menurut MEMO, “Pengadilan Banding Saudi telah menghukum Syaikh Saleh Al-Talib, seorang imam dan khatib terkemuka di Masjidil Haram di Makkah, sepuluh tahun penjara, sebuah organisasi hak asasi manusia mengatakan kemarin.”

Sumber informasinya adalah “organisasi hak asasi manusia,” yang dengan sendirinya merupakan sumber yang sangat spekulatif. Jelas, informasi penting seperti itu tidak bisa datang dari “organisasi hak asasi manusia” yang tidak jelas dan tidak disebutkan namanya.

Lebih lanjut, laporan tersebut menyatakan bahwa, Imam Al-Talib ditangkap pada 2018 “setelah ia menyampaikan khutbah tentang kewajiban dalam Islam untuk berbicara menentang kejahatan di depan umum.”

infohajian.org

Sumbernya adalah kelompok advokasi media sosial Prisoners of Conscience (POC), yang merupakan organisasi hak asasi manusia pro-kiri yang berbasis di London. Diba Alikhani kelahiran Iran adalah salah satu Pembina POC.

POC tidak mengutip pernyataan resmi tentang penyebab penangkapan. Sudah menjadi misteri sejak 2018, bagaimana POC menyimpulkan bahwa seorang imam ditangkap karena menyampaikan khutbah tentang kewajiban Islam “untuk berbicara menentang kejahatan di depan umum.”

Menariknya, baik kanal berita POC maupun Ikhwanul Muslimin, tidak menyoroti penderitaan para ulama dan cendekiawan yang ditangkap dan dibunuh dengan kejam oleh Taliban. Misalnya, Syaikh Sadar Wali Saquib diculik dan dibunuh Taliban bulan lalu, sementara puluhan ulama membusuk di penjara.

Demikian pula, tidak ada pembicaraan tentang kasus cendekiawan Muslim Iran yang terbunuh di siang bolong. Misalnya, Molavi Abdushakour Kord Tarshabi, dan banyak seperti dia yang dipenjara dan dibunuh oleh rezim Mullah di Provinsi Baluchestan.

Jelas sekali bahwa berita tentang Syaikh Saleh Al-Talib tidak terverifikasi dan tujuan di balik propaganda Islam keji ini adalah untuk membangkitkan emosi umat Islam terhadap Arab Saudi, Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad Bin Salman.

Akhirnya untuk mengganggu reformasi ekonomi yang sedang berlangsung yang bertujuan menjadikan Kerajaan sebagai pusat kekuatan mandiri peradaban Arab.[]

Sumber: millichronicle