Umrah Plus September oleh: Umrah Plus September
promo: Umrah Plus September

Saudi dan Lingkungan Barunya

Saudi dan Lingkungan Barunya

Oleh: Adil Al Harbi, Jurnalis Saudi

Selama ini, Kerajaan Arab Saudi selalu hadir dalam kancah Arab sebagai pendukung utama. Menopang yang limbung, dan memulihkan kehancuran yang ditinggalkan oleh kebijakan-kebijakan gagal serta petualangan gila. Selama beberapa dekade terakhir, Arab Saudi telah membayar harga mahal untuk mendukung stabilitas, bahkan ketika beberapa negara membalas dukungan itu dengan tikaman, dan membalas kebaikan dengan pernyataan keraguan, sindiran, serta ekspor krisis.

Namun, zaman telah berganti, dan persamaannya tidak lagi sama. Hari ini, kita berada di ambang fase baru Arab Saudi, yang secara gamblang membedakan antara dukungan sembarangan dan dukungan yang disyaratkan dengan perubahan dan komitmen. Sejak pernyataan Menteri Keuangan yang terhormat di Davos 2023 bahwa “hibah langsung telah berakhir”, seharusnya semua pihak menyadari bahwa era cek kosong telah usai, dan Arab Saudi mencari kemitraan baru, bukan parasit baru.

Dalam era “Visi 2030”, Kerajaan telah merumuskan ulang kebijakan luar negerinya dengan bahasa kepentingan bersama, bukan emosi yang berlalu lalang. Arab Saudi tidak lagi menerima untuk direduksi menjadi sekadar “pemodal pasif” atau “penyelamat abadi”. Kini, ia adalah negara investasi dan tanggung jawab, yang memberikan dukungannya berdasarkan standar yang jelas, terkait dengan transparansi, efisiensi, dan hasil yang terukur. Kerajaan tidak lagi bermaksud membuang-buang sumber dayanya untuk negara-negara yang tidak memiliki visi, maupun transparansi yang melindungi dukungan dari korupsi dan salah urus.

Bilboard News Detail
Promo

Tak perlu diragukan lagi, dukungan ini tidak pernah menjadi kelemahan atau ketidakmampuan, melainkan pilihan strategis untuk mendukung stabilitas regional. Namun, pengalaman telah membuktikan bahwa pemberian tanpa syarat justru melanggengkan ketergantungan dan tidak menciptakan pembangunan. Oleh karena itu, Kerajaan hari ini mengarahkan kembali dukungannya berdasarkan visi regional yang jelas, yang menekankan pada pembangunan lingkungan sekitar berdasarkan visi bersama yang melampaui slogan dan menuju esensi pembangunan. Sebab, Kerajaan menyadari bahwa tidak ada kepentingan baginya maupun bagi pihak lain di wilayah yang tidak seimbang, di mana tingkat pembangunan sangat bervariasi, dan korupsi merajalela mengorbankan stabilitas. Realitas semacam ini hanya akan menghasilkan negara-negara yang lumpuh, lingkungan yang bergejolak, dan beban tambahan.

Bagi mereka yang terbiasa menerima bantuan tanpa reformasi, mereka harus mengoreksi diri, karena Kerajaan tidak lagi memberi kepada yang hanya bersuara lantang, melainkan kepada yang memikul tanggung jawabnya, mengelola sumber dayanya dengan baik, dan pantas menjadi mitra, bukan beban. Pergeseran ini bukanlah kemewahan politik, melainkan konsekuensi langsung dari pengalaman masa lalu, pelajaran yang dipahami dengan baik oleh Kerajaan. Kita tidak lagi terbelenggu oleh basa-basi, atau oleh pidato-pidato berapi-api yang di baliknya menyembunyikan kegagalan sistematis dan korupsi yang meluas. Kita kini menggunakan hak kita untuk akuntabilitas, evaluasi, bahkan seleksi, untuk memutuskan apakah akan mengatakan “ya” atau “tidak”.

Dan bagi mereka yang masih merindukan masa bantuan tanpa syarat, mereka harus menyadari bahwa halaman itu telah ditutup untuk selamanya, dan fase mendatang hanya mengakui kemitraan sejati. Semua didasarkan pada hasil, bukan janji, dan pada kenyataan bahwa siapa pun yang menginginkan dukungan, harus memulai dari dalam, bukan dari media. [Muhammad Wildan Zidan]

Sumber: https://alriyadh.com/2141240