Baru-baru ini dunia maya dihebohkan oleh cerita unik sekaligus kontroversial: Master Limbad dikabarkan sempat ditahan oleh petugas imigrasi Arab Saudi saat menjalankan ibadah umrah, lantaran penampilannya yang nyentrik, lengkap dengan jubah gelap dan gigi taring tajam.
Cerita ini pertama kali diungkap oleh komika Abdur Arsyad dalam sebuah podcast. Ia mengklaim bahwa petugas imigrasi bahkan sempat berteriak “syaiton!” saat melihat penampilan Limbad.
Tapi… apakah berita yang viral beberapa waktu ini beneran sampai segitunya?
1. Hanya Berdasarkan Cerita Lisan, Tanpa Bukti Visual
Cerita ini belum disertai bukti foto, video, atau dokumen resmi. Satu-satunya sumber adalah podcast komika Abdur Arsyad, yang notabene adalah stand-up comedian—bukan saksi resmi, bukan pula jurnalis lapangan.
Bahkan Limbad sendiri, sebagai pihak yang diberitakan, belum memberikan klarifikasi apapun. Artinya, informasi ini masih simpang siur dan hanya berasal dari satu narasi personal yang belum bisa diverifikasi.
Artinya: informasi ini belum terverifikasi.
2. Komika = Cerita Bisa Dibumbui
Abdur memang dikenal sebagai komika dengan gaya satir dan naratif. Kemungkinan besar cerita ini dituturkan dengan unsur humor dan dramatisasi, bukan laporan faktual. Dalam dunia stand-up, melebih-lebihkan cerita adalah bagian dari teknik panggung.
Teriakan “syaiton” bisa jadi hanya gimmick atau hiperbola.
3. Petugas Imigrasi Arab Saudi Profesional
Menurut laporan dari Saudi Press Agency (SPA), petugas imigrasi Arab Saudi telah dilatih secara profesional dalam multibahasa dan prosedur standar internasional, terutama menjelang musim haji dan umrah. Fokus utama mereka adalah:
• Keaslian paspor & visa
• Pengecekan sidik jari & foto biometrik
• Status vaksinasi & dokumen medis
Penampilan nyentrik atau gigi taring bukan indikator keamanan.
4. Tidak Ada Berita dari Media Resmi
Sampai artikel ini ditulis, tidak ada media resmi baik dari Arab Saudi (SPA, AlArabiya, Arab News), maupun media nasional (Kompas, CNN Indonesia, Detik) yang memberitakan soal Limbad ditahan atau diperiksa secara khusus.
Jika insiden sebesar itu benar terjadi, pasti sudah jadi headline.
5. Butuh Klarifikasi Resmi
Cerita yang belum punya konfirmasi dari Kedutaan Besar RI di Riyadh atau Kementerian Luar Negeri RI, masih berada dalam kategori: anecdotal claim. Tidak salah mengangkatnya sebagai hiburan, tapi berisiko jika dipercaya mentah-mentah.
KESIMPULAN: Perlu Skeptis, Jangan Telan Mentah
Cerita ini memang lucu dan viral, tapi belum ada data, saksi, atau bukti yang bisa mengonfirmasi keabsahannya. Jadi, sahabat saudinesia sebaiknya menahan diri sebelum menyebarkan atau mempercayai sepenuhnya.
“Kita boleh ketawa, tapi jangan gampang percaya. Ingat, yang viral belum tentu faktual.”
Syaikh Shalih al-Fauzan dalam salah satu kitabnya pernah menyebutkan: “Wajib bagi seorang muslim untuk memastikan berita sebelum menyebarkannya. Tidak boleh menyebarkan berita hanya karena mendengarnya, kecuali setelah yakin akan kebenarannya.” (Diringkas dari penjelasan beliau dalam kitab “al-Mulakhkhas fi Syarh Kitab at-Tauhid”). [ZEIN]